tocoachoutlet.com – Hampir semua orang pernah melihat kaus polos, jaket ringan, atau atasan Heattech dari Uniqlo. Gerainya ada di ratusan kota di dunia, termasuk puluhan di Indonesia. Tapi jarang yang tahu bahwa merek ini bermula dari sebuah toko pakaian pria di kota kecil industri di Jepang bagian selatan, yang dijalankan seorang penjahit di lantai bawah rumahnya sendiri.
Artikel ini menelusuri perjalanan Uniqlo: dari toko Ogori Shoji tahun 1949, keputusan berani Tadashi Yanai membuka “gudang pakaian” di Hiroshima, ledakan jaket fleece, strategi bisnis dan teknologi di baliknya, hingga ekspansi ke Indonesia dan angka-angka terbarunya. Ada pula bagian kritis: apakah Uniqlo benar-benar fast fashion, dan kontroversi rantai pasok yang pernah menyertainya. Sumber-sumber sejarah kadang berbeda dalam detail kecil, dan bila ada perbedaan, akan saya tandai.
1949: Toko Pakaian Pria di Lantai Bawah Rumah
Kisahnya dimulai di Ube, Prefektur Yamaguchi. Pada Maret 1949, Hitoshi Yanai membuka toko pakaian pria bernama Men’s Shop Ogori Shoji. Putranya, Tadashi Yanai, lahir sekitar sebulan sebelumnya, pada Februari 1949. Toko itu menempati lantai dasar rumah keluarga, dan keluarga tinggal di atasnya. Banyak sumber menggambarkannya sebagai toko penjahit atau toko pakaian pinggir jalan. Perusahaan resmi berbadan hukum sebagai Ogori Shoji Co., Ltd. pada 1963 dan, dalam dua dekade berikutnya, membuka beberapa cabang.
1972: Anak Penjahit Itu Pulang
Tadashi Yanai lulus dari Universitas Waseda pada 1971. Ia sempat bekerja sekitar setahun di jaringan supermarket JUSCO, lalu bergabung dengan bisnis ayahnya pada 1972. Awalnya ia kurang bergairah pada dunia ritel, tetapi karena kekurangan karyawan, ia harus mengerjakan hampir segalanya sendiri: membersihkan toko, merapikan jaket, hingga mencari barang. Ia kemudian menyebut masa itu sebagai kursus kilat berbisnis.
Pada 1984, saat perusahaan sudah memiliki sekitar 22 toko pakaian pria, ia diangkat menjadi presiden perusahaan. Dalam perjalanannya ke Eropa dan Amerika, ia melihat jaringan pakaian kasual besar seperti Benetton dan Gap, dan melihat peluang besar bagi pakaian kasual di Jepang. Ia ingin mengubah arah bisnis keluarga dari setelan jas ke pakaian santai yang terjangkau.
1984: Unique Clothing Warehouse
Pada Juni 1984, di kawasan Fukuro-machi, Hiroshima, dibukalah toko pertama bernama Unique Clothing Warehouse, gerai pakaian kasual unisex dengan konsep “gudang”. Nama ini kemudian dipersingkat menjadi Uniqlo.
Ada cerita nama yang sering diceritakan: pada 1988, saat mendaftarkan merek di Hong Kong, huruf “C” pada “Uniclo” salah dibaca petugas sebagai “Q”. Yanai menyukai kesalahan itu dan memakai ejaan “Uniqlo” di seluruh Jepang. (Kisah ini diceritakan luas oleh berbagai sumber, tetapi tetap sebaiknya dipandang sebagai anekdot perusahaan.)
Toko Uniqlo pertama di Fukuro-machi akhirnya ditutup pada Agustus 1991, sebulan sebelum perusahaan berganti nama. Sementara itu, toko pinggir jalan pertama dibuka di Shimonoseki pada 1985 dan menjadi model bagi gerai-gerai berikutnya.
1990-an: Menjadi Fast Retailing dan Ledakan Fleece
Pada September 1991, Ogori Shoji berganti nama menjadi Fast Retailing Co., Ltd. Perusahaan tercatat di Bursa Hiroshima pada Juli 1994 dan masuk bursa utama Tokyo (bagian pertama) pada Februari 1999.
Titik baliknya terjadi pada November 1998, ketika Uniqlo membuka gerai perkotaan pertamanya di Harajuku, Tokyo. Kampanye jaket fleece berharga murah memicu demam yang meluas. Satu sumber menyebut Uniqlo menjual sekitar 26 juta jaket fleece pada 2000 saja. Sebelumnya, merek ini di sekitar Tokyo lebih dipandang sebagai jaringan diskon pinggiran kota dengan kualitas biasa saja, dan ledakan fleece membantu mengubah citra itu.
Pada Oktober 2000, Uniqlo juga meluncurkan toko online-nya.
Resep di Balik Pertumbuhannya
Model SPA
Uniqlo menjalankan model SPA (specialty store retailer of private label apparel): perusahaan mengelola langsung tahap utama mulai dari perencanaan produk, pengadaan bahan, produksi, distribusi, hingga penjualan. Strategi kuncinya adalah pemesanan massal dalam jumlah besar untuk setiap item, sehingga biaya per unit bisa ditekan sambil menjaga kualitas.
Kemitraan teknologi bahan
Yanai pertama kali mengunjungi Toray Industries pada April 2000, dan kedua perusahaan bekerja sama sejak itu. Dari kerja sama itulah lahir Heattech pada 2003, setelah sekitar 10.000 prototipe menurut satu sumber, dan perusahaan menyatakan miliaran potong sudah terjual. Selain Heattech, ada pula AIRism, produk lain yang menjadi andalan.
Filosofi LifeWear
Semua inovasi itu dibingkai dalam filosofi LifeWear, pakaian kasual yang sederhana, fungsional, berkualitas, dan tahan lama untuk siapa saja. Yanai pernah mengatakan bahwa merek Uniqlo sama dengan LifeWear. Strategi komunikasinya pun cenderung fungsional, dengan penekanan pada manfaat produk ketimbang gaya selebritas.
Menuju Dunia
Setelah mapan di Jepang, Uniqlo melangkah ke luar negeri:
- Amerika Serikat: gerai pertama di New Jersey ditutup pada 2006, tetapi pada November tahun yang sama Uniqlo membuka toko unggulan global di SoHo, Manhattan. Pembelajaran dari kegagalan awal menjadi bagian dari strateginya.
- Asia Tenggara: Singapura (2009), Malaysia dan Taiwan (2010), Thailand (2011), Filipina (2012), Indonesia (2013), dan Vietnam (2019).
- Eropa: antara lain Spanyol (2017) dan toko permanen pertama di Polandia (September 2024).
Uniqlo di Indonesia
Gerai pertama Uniqlo di Indonesia dibuka pada 22 Juni 2013 di Lotte Shopping Avenue (kini Lotte Mall), Ciputra World 1, Kuningan, Jakarta, dengan luas area penjualan sekitar 2.680 m². Bisnisnya dijalankan lewat perusahaan patungan dengan Mitsubishi Corporation. Dalam pengumuman resmi, Tadashi Yanai menyebut Indonesia sebagai pasar kunci karena merupakan negara berpenduduk terbanyak di Asia Tenggara.
Perkembangannya: dua gerai berikutnya dibuka pada Oktober 2014 di Summarecon Mall Bekasi dan Grand Indonesia, lalu Bandung dan Surabaya pada 2017, dan Medan pada 2018. Per 21 Maret 2025, Uniqlo tercatat memiliki 80 gerai di 27 kota di Indonesia, dan sejak 2023 mulai membuka gerai pinggir jalan di kawasan permukiman seperti Tangerang dan Bekasi. (Jumlah gerai bisa berubah, jadi cek situs resmi untuk data terbaru.)
Seberapa Besar Sekarang?
Beberapa angka dari Fast Retailing, induk Uniqlo:
- Tahun fiskal 2025 (berakhir Agustus 2025): pendapatan konsolidasi sekitar ¥3,4 triliun (naik 9,6%), laba bisnis ¥551,1 miliar. Uniqlo Jepang melampaui ¥1 triliun pendapatan untuk pertama kalinya, sementara Uniqlo International mencapai sekitar ¥1,91 triliun.
- Tahun fiskal 2026 (berakhir Agustus 2026): menurut laporan Reuters pada 8 Oktober 2026, laba operasi mencapai sekitar ¥743 miliar (US$4,7 miliar), rekor tahunan kelima berturut-turut dan melampaui target internal. Reuters juga melaporkan bahwa penjualan di Amerika Utara dan Eropa untuk pertama kalinya melampaui Tiongkok sebagai pasar terbesar. Sumber lain memperkirakan pendapatan setara sekitar US$25 miliar.
- Jaringan gerai: per 31 Mei 2026, Uniqlo mengoperasikan sekitar 2.529 gerai di dunia, terdiri dari 785 di Jepang dan 1.744 di luar Jepang.
- Ambisi: Yanai sering menyatakan keinginan menjadikan Fast Retailing peritel pakaian terbesar di dunia, berhadapan dengan Inditex (pemilik Zara) dan H&M.
Tadashi Yanai disebut sebagai orang terkaya di Jepang dan menguasai sekitar 20% saham Fast Retailing.
Benarkah Uniqlo Fast Fashion?
Pertanyaan ini sering memecah pendapat.
Sisi yang menolak label fast fashion: perusahaan berulang kali menegaskan bahwa Uniqlo bukan fast fashion. Fast fashion identik dengan banyak desain, produksi batch kecil, dan perputaran tren yang sangat cepat. Uniqlo justru menjual item dasar yang dirancang bertahan lama. Putra Yanai, Kazumi Yanai, dikutip mengatakan bahwa Uniqlo disalahpahami sebagai merek fast fashion, dan kepala riset dan pengembangannya menyebut, “kami tidak melakukan apa pun dengan cepat.”
Sisi yang lebih kritis: Uniqlo tetap beroperasi dalam skala produksi massal global dengan harga murah, dan pengamat menilai bahwa harga rendah selalu menuntut efisiensi di rantai pasok. Ulasan independen cenderung menyimpulkan bahwa Uniqlo bukan fast fashion ala Shein, tetapi juga bukan merek slow fashion yang etis sepenuhnya.
Isu rantai pasok: otoritas bea cukai Amerika Serikat pernah menahan sebuah pengiriman kemeja Uniqlo karena dugaan menggunakan kapas dari Xinjiang, wilayah yang dikaitkan dengan tuduhan kerja paksa. Pada November 2024, Yanai menyatakan kepada BBC bahwa perusahaan tidak memakai kapas dari Xinjiang. Pernyataan itu memicu reaksi keras di media sosial Tiongkok, dan saham Fast Retailing sempat turun hingga sekitar 4,5%. Kasus ini menunjukkan betapa rumitnya menjaga transparansi rantai pasok global, dan perlu dibaca sebagai isu yang masih diperdebatkan, bukan kesimpulan final.
Dari Lantai Bawah Rumah ke Seluruh Dunia
Uniqlo menunjukkan bagaimana sebuah usaha keluarga kecil bisa tumbuh menjadi jaringan global lewat visi yang konsisten: pakaian dasar yang terjangkau, fungsional, dan terus disempurnakan. Namun, kisahnya juga mengingatkan bahwa pertumbuhan besar membawa pertanyaan besar, mulai dari definisi fast fashion hingga tanggung jawab rantai pasok. Bagi konsumen, memahami asal-usul dan tantangan sebuah merek membantu kita memilih dengan lebih sadar, bukan sekadar karena harga atau tren.
