Awal Mula Converse: Perjalanan Pabrik Sepatu Karet Menjadi Ikon Streetwear Global

Awal Mula Converse: Perjalanan Pabrik Sepatu Karet Menjadi Ikon Streetwear Global

tocoachoutlet.com – Sepatu kanvas berujung karet dengan logo bintang di tumit itu sudah terlihat di kaki pemain basket, anak band punk, musisi grunge, sampai mahasiswa di kampus. Chuck Taylor All Star adalah salah satu sepatu paling dikenali di dunia, dan desainnya nyaris tidak berubah sejak pertengahan abad ke-20.

Yang jarang diketahui, merek ini bermula dari pabrik sepatu karet musim dingin di sebuah kota kecil di Massachusetts, bukan dari studio mode. Perjalanannya naik-turun: pernah menguasai pasar sepatu basket Amerika, tersingkir oleh pesaing, bangkrut pada 2001, diselamatkan Nike pada 2003, lalu menjadi ikon gaya jalanan. Artikel ini menelusuri kisah itu dengan merujuk sumber sejarah, dokumen perusahaan, dan laporan keuangan Nike. Di beberapa titik, sumber berbeda dalam detail (terutama tahun penambahan tanda tangan Chuck Taylor), dan perbedaan itu akan saya tandai.

1908: Pabrik Karet di Malden

Pada Februari 1908, Marquis Mills Converse, yang saat itu berusia 47 tahun dan merupakan manajer di sebuah perusahaan alas kaki, mendirikan Converse Rubber Shoe Company di Malden, Massachusetts. Produk awalnya adalah sepatu dan bot berbahan karet untuk musim dingin bagi pria, wanita, dan anak-anak. Dalam dua tahun pertama, pabrik dilaporkan memproduksi sekitar 4.000 pasang per hari. Setelah itu, bahan karet yang sama dipakai untuk sepatu tenis.

Katalog perusahaan tahun 1913 menggambarkan semangat awalnya: perusahaan didirikan dengan keyakinan bahwa ada kebutuhan akan perusahaan sepatu karet yang cukup mandiri untuk tidak mengikuti semua yang dilakukan pesaing.

1917: Lahirnya All Star

Converse mulai merambah sepatu atletik pada 1915, membangun lini basket pada musim panas 1916, dan memperkenalkan sepatu All Star pada 1917. Sepatu berbahan kanvas dengan sol karet ini dipasarkan awalnya dengan nama “Non-Skids” dan sering disebut sebagai sepatu basket performa pertama.

Chuck Taylor: pemain yang jadi tenaga penjual

Pada 1921, seorang pemain basket semi-profesional bernama Charles “Chuck” Taylor datang ke Converse sambil mengeluh kakinya sakit, dan pulang dengan pekerjaan sebagai salesman sekaligus duta. Masukannya soal fleksibilitas dan penyangga tumit ikut membentuk desain, termasuk patch pelindung mata kaki berlogo bintang. Ia berkeliling Amerika menggelar klinik basket di sekolah dan kampus, membawa sepatu di bagasi mobil, lalu mengajak pelatih memesan All Star di toko olahraga. Converse juga membentuk tim basket keliling di Chicago bernama Converse All Stars untuk mempromosikan sepatunya.

Tanda tangan Taylor ditambahkan ke patch pergelangan kaki, menjadikannya sepatu atletik pertama yang diendorse tokoh, dan sepatu itu dikenal sebagai Chuck Taylor All Star. Catatan sumber: ada yang menulis penambahan itu terjadi pada 1923 (termasuk dokumen perusahaan dan ensiklopedia), sedangkan sumber lain menyebut 1932. Karena itu, saya sebut saja “pada dekade 1920 sampai 1930-an”.

Taylor pensiun dari Converse pada 1968 dan masuk Naismith Memorial Basketball Hall of Fame pada 1969.

Era Emas: Olimpiade, Perang, dan Dominasi Pasar

  • Olimpiade: Converse All Star disebut sebagai sepatu resmi basket Olimpiade dari 1936 sampai 1968.
  • Perang Dunia II: sepatu ini dilaporkan menjadi sepatu latihan atletik resmi angkatan bersenjata AS, dan Converse juga memproduksi alas kaki pelindung, bot penerbang, dan bot hutan pada 1940-an.
  • Era 1960-an: Converse diperkirakan menguasai sekitar 70 sampai 80 persen pasar sepatu basket, dengan sekitar 90 persen pemain basket profesional dan kampus memakai Chuck Taylor.

Bayangkan posisi dominan seperti itu: hampir semua pemain di lapangan memakai sepatu yang sama.

1970-an dan 1980-an: Tergelincir dari Lapangan

Setelah masa kejayaan, Converse mulai goyah. Pemain beralih ke sepatu berbahan kulit dengan sol lebih keras dan penyangga lengkung yang lebih baik, sementara pesaing seperti Adidas, Puma, lalu Nike dan Reebok menggebrak dengan desain performa baru. Sumber-sumber juga menyebut keputusan bisnis yang kurang tepat. Pemain NBA terakhir yang disebut rutin memakai All Star kanvas adalah Tree Rollins pada musim 1979 sampai 1980.

Ironisnya, sepatu itu tidak benar-benar hilang. Ia justru menemukan “kehidupan kedua” di luar lapangan.

Dari Lapangan ke Panggung dan Jalanan

Pada 1970-an, All Star diadopsi kultur punk, antara lain oleh The Ramones dan Sex Pistols. Para musisi itu tidak peduli dengan sejarah basket sepatu tersebut. Ketika drummer Ramones, Tommy Ramone, ditanya siapa Chuck Taylor, ia menjawab sekenanya bahwa mungkin dia pelatih basket. Lalu hadir Kurt Cobain di era grunge, serta daftar panjang tokoh budaya yang kerap dikaitkan dengan sepatu ini, termasuk James Dean, Andy Warhol, dan Patti Smith.

Sepatu yang dulu simbol atlet kini menjadi simbol anak muda, seniman, dan musisi: murah, sederhana, mudah dicorat-coret, dan tidak berteriak soal merek. Pada 1990-an, ketika penjualan Nike dan Adidas jauh melampaui Converse, All Star tetap digemari komunitas seni dan musik, dan perusahaan akhirnya mulai merangkul posisi budaya itu.

Kebangkrutan dan Penyelamatan oleh Nike

Perjalanan korporasinya berliku. Converse pernah mengalami kebangkrutan pada 1929, lalu berpindah tangan beberapa kali.

Induk perusahaan, Interco, mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 pada 1991. Pada 22 Januari 2001, Converse sendiri mengajukan kebangkrutan, dan pada tahun yang sama menutup pabrik terakhirnya di Amerika Serikat, mengakhiri hampir satu abad produksi sepatu buatan AS.

Pada April 2001, grup investor bernama Footwear Acquisitions membeli merek itu dari proses kebangkrutan.

Pada Juli 2003, Nike mengumumkan akan mengakuisisi Converse seharga sekitar US$305 juta (ditambah kewajiban tertentu), dan transaksi rampung pada September 2003.

Beberapa sumber menyebut angka sekitar US$309 juta, kemungkinan karena memasukkan biaya transaksi. Saat itu penjualan bersih tahunan Converse Inc.

sekitar US$205 juta, sementara penjualan grosir seluruh produk bermerek Converse di dunia sekitar US$580 juta pada 2002 menurut dokumen perusahaan.

Pendekatan Nike secara garis besar: mempertahankan warisan Chuck Taylor dan Jack Purcell sebagai inti, memodernisasi kenyamanan (misalnya dengan teknologi Nike di bagian dalam), dan memosisikan Converse sebagai merek gaya hidup, bukan merek performa.

Produksi juga dipindahkan ke luar Amerika Serikat. Pada 2013, Converse meluncurkan Chuck 70, versi premium berinspirasi sepatu era 1960-an dan 1970-an dengan kanvas lebih tebal, bantalan lebih baik, dan detail retro.

Converse Hari Ini: Ikon yang Menghadapi Tantangan

Reputasi Converse sebagai ikon budaya tidak otomatis menjamin penjualan. Berdasarkan laporan Nike kepada otoritas pasar modal AS:

  • Tahun fiskal 2025: pendapatan Converse turun 18% (dalam mata uang tetap), dengan penurunan di semua wilayah.
  • Tahun fiskal 2026: pendapatan turun sekitar 32% (dalam mata uang tetap), dan laba operasi (EBIT) turun 93%. Nike menyebut ada biaya penyetelan ulang merek dan pasar, termasuk cadangan persediaan usang dan pesangon.
  • Kuartal ketiga fiskal 2026: pendapatan sekitar US$264 juta, turun 35%.
  • Sebuah ringkasan pihak ketiga menyebut pendapatan setahun sekitar US$1,2 miliar, turun dari sekitar US$1,7 miliar.
  • Media industri melaporkan spekulasi bahwa Authentic Brands Group tertarik mengakuisisi Converse. Itu masih kabar yang belum terkonfirmasi.

Artinya, status ikon tidak sama dengan jaminan pertumbuhan. Pasar sneaker yang ramai, perubahan selera, dan strategi merek tetap menentukan.

Converse di Indonesia

Di Indonesia, Converse didistribusikan oleh PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), anak usaha Mitra Adiperkasa (MAP), dan dijual lewat gerai resmi dan situs Converse.id. MAPA mengelola lebih dari 150 merek dan mengoperasikan 1.115 gerai di 78 kota pada akhir Juni 2021.

Soal produksi, Converse diproduksi di sejumlah negara, dan Indonesia termasuk salah satunya.

Pada Agustus 2025, Menteri Perindustrian melepas ekspor sepatu Converse yang diproduksi PT Yih Quan Footwear Indonesia di Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah, ke Amerika Serikat dan Australia.

Nike bekerja sama dengan sekitar 50 pabrik di Indonesia (20 di antaranya pabrik alas kaki), dan pada 2024 mengekspor lebih dari 200 juta pasang sepatu Nike, Converse, dan Jordan ke pasar global.

Jadi, sepatu berlabel “Made in Indonesia” memang bagian dari rantai pasok Converse.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *